Cerita Seks Mama dan Anak Putrinya

Tidak ada komentar 889 views
loading...

Cerita Dewasa – Cerita Seks Mama dan Anak Putrinya. Sangat bete hari ini si Frida habis menonton televisi, dia yang sendiri ada dirumah, karena ayah nya yang pergi keluar kota urusan kantor dan pulang minggu depan, sedangkan ibunya sedang acara dengan teman temannya, dan adiknya sedang pergi dirumah temannya, dia hanya seorang diri dirumah kemudian dia pergi kekamarnya di lantai dua.

“Coba Bombom nggak pergi, kita bisa main kayak kemarin dulu” pikir Frida Memang sejak pengalaman oral seksnya dengan Bombom, Frida sering mengulangi perbuatannya dengan Bombom. Tentu saja diam-diam kalo Mama dan Papa Frida lagi nggak ada dirumah. Bahkan Ibu peri pun tidak Frida beri tahu tentang aktivitasnya yang satu ini.
Frida berdiri di depan cermin besar yang ada di kamarnya. Kemudian dia melepas pakaian, BH, dan celana dalamnya. Sekarang Frida telanjang bulat sambil memandang dirinya sendiri di cermin. Frida memandangi wajahnya yang cantik manis, kulitnya yang putih mulus, dadanya yang baru tumbuh dengan puting mencuat gara-gara bombom sering gemas kalo mengulum puting itu, dan vaginanya yang terawat dengan bulu-bulu halus yang masih jarang.
“Uuhh.., enak.”, desah Frida sambil tangannya yang kiri mengelus lembut dadanya sendiri.
Sesekali dipilinnya putingnya sambil mMore…embayangkan kalo Kak Rendi yang sedang melumat putingnya itu. Tangan kanannya juga tidak Frida biarkan menganggur tetapi sibuk mengusap lembut vaginanya terutama bagian agak menonjol yang bernama klitoris seperti yang sudah dipelajari Frida dalam pelajaran anatomi tubuh manusia di sekolah.
Frida merasa nikmat sekali bila klitorisnya diusap-usap, apalagi kalo dihisap mulutnya bombom. Mata Frida terpejam, kelihatannya dia asyik menikmati perbuatannya itu sampai Frida tidak menyadari kalo ada seseorang membuka pintu kamarnya.
“FRIDA! Apa yang kamu lakukan?!”
Frida kaget sekali. Dia segera menghentikan kegiatannya lalu menoleh ke pintu kamarnya. Ternyata disana sudah berdiri Mama Frida dengan wajah yang kelihatannya sangat marah.
“Mmaa.. Ma”, kata Frida sambil ketakutan.
“Ehm ternyata kalo lagi sendirian, kamu sering melakukan perbuatan kurang ajar seperti ini ya?!”, cibir Mama Frida.
“Mm.. maafin Frida, Ma”, jawab Frida ketakutan sambil berusaha menutupi dada dan kemaluannya.
Mama Frida mendekat sambil memandang Frida yang masih telanjang.
“Ehm.. anak kurang ajar ini rupanya sudah tumbuh jadi gadis yang cantik sekali. Sekarang aku punya kesempatan mencoba oleh-oleh dari temenku dari Belanda sambil mempraktekan apa yang kulihat dari VCD kemarin.”, pikir Mama Frida dalam hati.
“Kamu akan Mama hukum. Sekarang tunggu disini dan jangan pakai bajumu. Kalo kamu tidak mau menurut sama Mama, akan Mama beritahukan perbuatan kamu ini ke Papa.”, kata Mama Frida sambil keluar kamar.
“Iya, Ma.”, jawab Frida pelan.
Frida takut sekali kalo Mama mengadukan dia ke Papa. Frida berpikir hukuman apa yang akan dijatuhkan Mama. Apa dia akan dipukul? Tapi Frida berpikir lebih baik dipukul daripada diadukan ke Papa.
Tak lama kemudian Mama Frida kembali dengan hanya memakai kimono sambil membawa sebuah kotak. Mama menyuruh Frida berdiri mendekat. Kemudian Mama melepas kimononya.
Frida kaget, ternyata Mamanya tidak memakai apa-apa di balik kimononya. Diam-diam Frida kagum terhadap Mamanya yang jelas merawat tubuhnya dengan baik. Frida mengamati wajah Mamanya yang masih cantik, tubuhnya yang masih langsing dan bagus, dadanya juga indah, besar tapi tidak turun dan masih padat, dan vagina Mamanya ternyata bulunya dicukur habis.
“Sekarang kamu harus menurut sama Mama dan jangan ceritakan ini ke siapa pun. Kalo tidak Mama akan melaporkan kamu ke Papa”, perintah Mama.
“Iya, Ma.”, jawab Frida ketakutan.
Tiba-tiba Mama Frida mencium bibir Frida dengan penuh nafsu. Mama Frida penasaran ingin tahu rasanya bercinta sesama perempuan setelah dia melihat VCD porno milik temennya yang ada adegan lesbinya. Sekarang dia bisa mencobanya dengan anak tirinya ini.
Frida terkejut tetapi dia tidak berani melawan perbuatan Mamanya. Diam-diam Frida bersyukur bahwa hukumannya ternyata tidak dipukul seperti biasanya. Frida heran dengan perbuatan Mamanya tapi lama-lama Frida juga menikmatinya.
Lidah Mamanya bergerak Fridar dimulutnya, Frida pun meniru perbuatan Mamanya. Mulanya memang Frida agak kaku dan risih, tapi kemudian dia menikmatinya. Apalagi tangan Mamanya juga mulai meremas-remas pantat Frida sambil sesekali mampir mengusap-usap memek Frida, dan tangan satunya Fridar beroperasi di dada Frida sambil memilin putingnya. Nafsu Frida mulai naik seperti kalo dia lagi oral dengan bombom. Frida merasa kakinya mulai lemas oleh kenikmatan.
“Ma, Frida capek berdiri.”, keluh Frida.
“OK. Sekarang kita ke ranjang aja.”, jawab Mama sambil mendahului tidur di ranjang Frida.
“Kamu juga naik kesini dan cium susu Mama sambil diremas-remas.”
Frida menurut. Frida menciumi payudara Mamanya yang besar itu sambil tangannya meremas payudara yang satunya.
“Eehhm.. yeah. Terusin La, isep putingnya. ookh.. anak pintar.”, desah Mama Frida keenakan.
Frida senang mendengar Mamanya senang. Mama nggak pernah memuji Frida sebelumnya. Lagipula Frida suka melakukan perintah Mamanya yang satu ini. Frida gemas dengan payudara Mamanya, dia suka sekali kalo Mamanya mendesah keenakan ketika putingnya Frida isap keras-keras.
“Aakh.. bagus sayang. Memek Mama coba kamu usap pake tangan kamu. aakh.. yeah begitu. Jari kamu masukin ke lubang memek Mama, pakai tiga jari biar lebih enak. ookh kocok-kocok keluar masuk. aakh..”
Frida mengocok memek Mamanya, mula-mula pelan lalu bertambah cepat. Frida merasakan jarinya basah oleh cairan, memek Mamanya jadi agak becek oleh cairan kenikmatan yang membanjir.
“Eehm.. sekarang jilatin memek Mama.”, perintah Mama Frida.
Frida mencoba apa yang sering dilakukan Bombom pada memeknya kalo lagi oral. Frida menciumi memek Mamanya, lidahnya bergerak Fridar sambil sesekali menusuk lubang memek itu. Tak lupa, Frida juga mengulum klitoris Mamanya dengan kuat karena Frida merasa paling enak kalo Bombom mengulum klitorisnya. Tubuh Mamanya kontan tersentak, dan pantatnya agak terangkat sebentar.
“Ookh.. eehm.. belajar dari mana kamu sayang?”, tanya Mama Frida.
Frida tak berani menjawab kalo Bombom yang mengajari. Frida meneruskan mengerjai memek Mamanya sambil sekarang jarinya ikut mengocok memek Mamanya dengan cepat.
“Aakkhh.. Mama nyampe sayang. aakkhh..”, jerit Mama sambil menjepitkan pahanya dan tangannya menjambak rambut Frida.
Mama Frida beristirahat sejenak sambil menikmati sisa-sisa orgasmenya yang pertama. Kemudian Mama Frida menyuruh Frida tidur telentang. Sekarang gantian Mama Frida yang beroperasi.
“Kamu cantik sekali La. Mama akan bikin kamu merasa keenakan.”, puji Mama.
Frida senang sekali. Mama mencium bibir Frida sambil tangannya meraba-raba tubuh Frida. Ciuman Mama turun ke leher. Frida menikmatinya, nafsunya mulai naik. Kemudian mulut Mama beroperasi di dada Frida yang baru tumbuh dan masih terlihat datar. Puting Frida dikulum kuat-kuat oleh Mama sambil tangannya mulai aktif di memek Frida.
“Eehmm.. Enak Ma esstt..”, desah Frida.
Puting Frida bertambah keras dan besar karena rangsangan dari Mama. Kemudian kaki Frida dibuka karena Mama Frida akan mengerjai memek anaknya itu. Mama Frida mulai menjilat memek anaknya.
“Sstt aakh.. terus Ma.”, erang Frida bertambah keras.
Lidah Mamanya terasa mengorek-ngorek Liang memeknya dengan Fridar. Frida mendesah merasakan nikmat birahi yang melanda dirinya. Apalagi ketika Mamanya menyedot klitorisnya, badan Frida sampai melengkung ke atas menahan nikmat.
Mama Frida pun menemukan keasyikan tersendiri menjilati memek anak tirinya itu. Dia terus menjilati memek anaknya. Semakin Frida mendesah dengan keras dan merasa nikmat, Mama Frida pun semakin bersemangat mempermainkan memek mungil yang masih perawan itu. Mama Frida pun menahan diri untuk tidak menggunakan jarinya, belum waktunya pikir Mama Frida.
“Aakkhh.. aah Ma, Frida.. eh.. Frida..aakh..”.
Frida merasakan ada sesuatu dalam dirinya yang mau jebol keluar dan dia tidak dapat menahannya lagi. Kakinya dirapatkan menjepit kepala Mamanya. Frida pun mengalami orgasmenya yang pertama. Cairan kenikmatan Frida yang membanjir keluar ditelan habis oleh Mamanya. Setelah itu badan Frida lemas dan dia terkulai di ranjangnya.
“Hukuman untukmu belum selesai Frida.”, kata Mamanya.
Frida melihat Mamanya berdiri dan menghampiri kotak yang ada di meja. Kelihatannya Mamanya mengambil sesuatu dari dalam kotak lalu memasangnya seperti sabuk melingkari pinggang dan pantatnya. Frida tidak bisa melihat benda itu dengan jelas karena Mamanya memunggunginya.
Dan ketika Mamanya berbalik, Frida kaget sekali. Benda itu ternyata berbentuk seperti burungnya bombom tetapi dari karet dan dua kali lebih besar dari punya Bombom. Penis karet dipasang Mamanya hingga seakan-akan Mamanya adalah laki-laki.
“Ma, kok Mama pake barang kayak gitu sih?”, tanya Frida heran.
“He.. he.. kamu pasti suka sama barang ini. Sekarang kamu kulum ****** ini pake mulut kamu.”, perintah Mama.
Frida menurut, lagipula Frida memang suka mengulum burungnya Bombom. Dan punya Mama kelihatannya lebih besar dan menarik sekali. Frida mempraktekan pengalamannya dengan burung Bombom pada mainan Mamanya.
Tapi penis mainan Mama ternyata lebih besar, mulut Frida hampir tidak muat menampung besarnya benda itu. Walaupun dipaksa, penis mainan itu cuma bisa masuk separuhnya. Mama Frida memegangi kepala Frida sambil memaju mundurkan pinggulnya seperti memperkosa mulut Frida.
Mama Frida menikmati perbuatannya itu sambil tertawa senang. Kemudian Mama Frida mengajak Frida memainkan posisi 69 dengan Mama Frida dibawah agar dapat menjilati memek anaknya lagi.
“Eehm.. eehhmm.. sst.. aakh Mama.. enak Ma ehhm.. eehm.”, desah Frida saat dia mengambil nafas, lalu dia meneruskan kulumannya.
Frida pun mulai terangsang kembali. Kemudian Mama Frida menyuruh Frida tidur terlentang. Lalu mengambil posisi misionaris untuk memerawani Frida dengan penis mainannya itu.
“Apa yang Mama lakukan?”, tanya Frida.
“Tenang saja sayang, kamu pasti senang.”, jawab Mama Frida sambil menggesek-gesekkan kepala penis mainan itu ke memek Frida.
Frida merasa nikmat saat memeknya digesek ujung mainan Mamanya. Apalagi Mamanya mulai melumat bibirnya lagi sambil tangannya memilin putingnya yang kini semakin keras.
“Aduuh.. sakiitt Maa.”, jerit Frida karena Mama mulai berusaha memasukkan penis itu ke memeknya.
“Cuma sebentar, nanti juga enak lagi.”, jawab Mama sambil memompa penis yang baru masuk kepalanya saja.
Frida mulai merasa enak bercampur sedikit perih. Sampai..
“AAKKH.. SAKIIT MAA..”, jerit Frida ketika Mamanya tiba-tiba menekan amblas hingga penis itu menjebol selaput daranya.
Mama Frida mendiamkan dulu gerakannya agar memek Frida terbiasa dengan penis besar itu. Dia pun mencium lagi bibir anaknya dan memainkan payudara anaknya agar Frida teralihkan rasa sakit akibat jebol keperawanannya. Ketika Frida sudah agak tenang, Mama Frida mulai memompa pelan-pelan.
“Aakh.. ii.. iiya Ma. Terus Ma.”, desah Frida ketika dia mulai merasakan nikmatnya seks walaupun masih ada sedikit rasa perih. Mama Frida pun merasa keasyikan tersendiri ketika dia berperan sebagai laki-laki dengan penis mainannya itu.
“Uukkhh.. enak Ma. Terusin Ma. Frida sayang Mama.”, desis Frida.
Frida memang merasakan kenikmatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, bahkan melebihi permainannya dengan Bombom. Mama Frida semakin bersemangat mendengar desahan Frida dan diapun makin mempercepat pompaannya di memek anaknya.
“He..he.. kamu suka khan dientot sama ****** Mama ini?”, kata Mama.
“Iiya Ma. Frida suka.”, jawab Frida.
“Suka ngapain? Ayo bilang. Kamu suka dientot sama ****** Mama ini. Ayo.”, perintah Mama Frida.
“Aakkh.. Frida suka.. aakh Frida suka dientot sama ****** Mama yang gede.”, jawab Frida yang mulai terhanyut dalam permainan Mamanya.
Mama Frida senang mendengar Frida ngomong jorok begitu, dan dia pun makin gencar melakukan tusukannya sambil diselingi goyangan agar Frida bertambah nikmat.
“Uukkh.. terus Ma. Enaakk.. aakkhh.”, desah Frida sambil menggoyang pinggulnya mengikuti irama pompaan Mamanya.
“Kamu memang *censored**censored**censored**censored**censored* kecil.
*censored**censored**censored**censored**censored* yang suka dientot sama ****** besar.”, kata Mama Frida yang semakin terangsang dengan ngomong yang jorok-jorok.
“Iya, Ma. Frida ini *censored**censored**censored**censored**censored* yang senang dientot. aakkhh Entot terus Ma.”, jawab Frida meniru kata-kata Mamanya yang jorok.
Mama Frida senang mendengar desahan dan ucapan jorok Frida. Dia menikmati melihat wajah Frida yang terangsang. Gadis cantik yang baru tumbuh dewasa itu terengah-engah keenakan. Kadang dia menggigit bibirnya menahan nikmat. Ekspresinya yang sedang terangsang membuat Frida semakin kelihatan cantik.
“Ma, Frida.. aakh.. Frida mau..”, desis Frida.
Melihat anaknya akan orgasme, Mama Frida mengangkat pantat Frida dan memompa Frida semakin cepat.
“Aakkhh.. Frida nyampe, Ma.”, erang Frida saat mencapai orgasmenya yang kedua.
Frida menjepitkan kakinya ketat ke pinggul Mamanya. Tangannya menarik dan memilin putingnya sendiri. Matanya terlihat putihnya saja dan bibir bawahnya digigit sendiri menahan sensasi orgasme yang dia rasakan. Mama Frida akan membiarkan Frida istirahat sebentar ketika..
“Ma, Bombom boleh ikutan nggak?”, tanya suara dari arah pintu kamar.
Mama Frida kaget. Saat dia menoleh ke arah pintu, dia melihat anaknya si Bombom sudah telanjang bulat sambil memegangi burungnya yang sudah berdiri.
Tetapi Mama Frida malah tersenyum dan berkata, “Boleh, sayang. Ayo kesini”.
Bombom kegirangan, dan segera naik ke ranjang. Dia berdiri di atas lututnya dan mengangkangi tubuh Frida. Bombom lalu menyuruh Frida mengkaraoke burungnya. Frida menurut walaupun sudah lemas.
“Aakh enak La. Helen aja kalah pinter kalo urusan kayak begini.”, kata Bombom.
Sementara itu, Mama Frida sedang membersihkan memek Frida dengan kain lap. Terlihat ada noda merah di cairan Frida, tanda kalo dia sudah tidak perawan lagi. Kemudian dia menjilati memek Frida untuk membangkitkan birahi anak tirinya lagi.
“Ma, minggir dulu, Ma. Bombom pengen ngentot nih.”, pinta Bombom dengan nafsu.
“Tunggu, sayang. Kamu tiduran saja di situ. Mama mau ambil sesuatu.”, perintah Mama.
Bombom menurut, dia tiduran setengah bersandar pada kepala ranjang dengan diganjal bantal pada punggungnya. Mama Frida pergi ke kotak di meja, melepas penis mainan dan mengambil bungkusan kecil. Setelah Mamanya mendekat, Bombom baru tahu kalo yang diambil Mamanya adalah kondom. Lalu Mama memasang kondom itu pada burung Bombom.
“Ayo, Frida. Naik ke atas Bombom.”, perintah Mama.
“Tapi Frida masih capek, Ma.”, jawab Frida lemah.
“Jangan membantah. Bombom sudah pengen ngentot kamu. Sini Mama bantu.”, jawab Mama sambil membantu Frida.
Mama membimbing Frida duduk diatas Bombom dengan memeknya tepat di atas burung Bombom. Mama menuntun penis Bombom memasuki memek Frida yang walau sudah tak perawan tapi masih rapat.
“Aakkhh.. memek kamu enak banget, La. Burungku kayak dijepit.”, desah Bombom.
Bombom senang posisi ini karena dia bisa melihat wajah Frida yang cantik dan tangannya pun bisa mengerjai puting Frida. Sementara itu, Mama Frida yang memeluk Frida dari belakang membantu Frida memompa penis Bombom sambil menciumi leher Frida dari belakang.
Pelan-pelan, birahi Frida naik lagi karena kocokan penis Bombom di memeknya, putingnya yang dipilin Bombom dengan gemas, juga ciuman Mama di lehernya. Frida mulai mendesah pelan mengiringi desahan Bombom yang keenakan.
Setelah Frida mulai pulih, Mama meninggalkan kedua anaknya yang asyik ngentot. Mama mengambil penis mainan dari dalam kotak dan memakainya. Tetapi yang ini lebih kecil dari yang tadi, kira-kira besarnya sama dengan burung Bombom.
Mama kembali lagi ke ranjang sambil membawa botol kecil dari plastik. Kemudian Mama menyeret tubuh Bombom agak ke bawah hingga Bombom tidur terlentang. Lalu Mama mendorong tubuh Frida ke depan hingga Frida telungkup merapat dengan Bombom, dan memek Frida masih mencengkeram burung Bombom. Bombom menyambut Frida dengan melumat bibir Frida. Kemudian Mama menjilati anus Frida dan menusukkan lidahnya ke lubang anus itu.
“Uukh.. geli, Ma. Enak.”, desah Frida.
Mama tersenyum, dia mau mencoba ide yang muncul saat Bombom minta bergabung tadi. Mama mengambil botol kecil tadi, lalu menyemprotkan isinya ke lubang anus Frida. Kemudian diratakan dengan jarinya yang berusaha membuka sedikit anus Frida hingga cairan itu bisa masuk ke dalam Liang belakang Frida.
“Apa itu Ma? Rasanya dingin.”, tanya Frida.
“Kamu tenang aja. Mama jamin ini lebih enak dari yang tadi.”, bujuk Mama.
Lalu Mama memposisikan penis mainannya yang sudah dipasang kondom dan diolesi cairan pelumas dari botol tadi ke Liang anus Frida. Mama mulai berusaha memasukkan penis mainannya ke anus Frida.
“Aduh Ma. Mama ngapain Ma? Sakit Ma.”, rintih Frida.
“Pertamanya aja kok yang agak sakit. Ntar juga enak.”, bujuk Mama.
Mama terus memaksa mainannya masuk, dan nggak peduli Frida yang merintih kesakitan. Penis mainan itu dimasukkan pelan-pelan sampai masuk semuanya. Lalu Mama membiarkan dulu sampai Frida agak tenang. Bombom juga membantu Frida melupakan rasa sakitnya dengan melumat bibir Frida lagi.
Beberapa saat kemudian Mama mulai memompa penis mainannya pelan-pelan.
Mula-mula Frida merasa anusnya perih sekali, tubuhnya terasa penuh dengan dua penis di kedua lubangnya. Tapi setelah lancar, Frida mulai merasakan sensasi kenikmatan yang melebihi persetubuhannya dengan satu penis.
Apalagi Mama mulai meningkatkan irama kocokannya. Bombom yang ada dibawah pun merasa nikmat sekali. Memek Frida terasa lebih rapat dan menggigit karena penis Mama yang ada di anus Frida. Walaupun Bombom tidak bergerak tapi kocokan Mama diatas membuat pergerakan otot memek Frida seperti memijat-mijat burungnya.
“Aakkhh.. iya, Ma. Sekarang rasanya jadi enak lagi. aakh.. sst.. terus.. entotin yang cepet, Ma.”, erang Frida yang mulai merasakan sensasi nikmat threesome.
“Uuhf.. memek kamu rasanya tambah sempit. Kamu suka kontolku, La?”, rayu Bombom. Bombom mengimbangi gerakan Frida dan Mamanya dengan menggoyang pinggulnya memutar.
“****** kamu enak juga kok Mbom. aakh..eehhmm..”, Frida mendesis keenakan.
Ibu dan anak-anaknya itu terus memacu birahi mereka. Tubuh mereka sudah mengeluarkan peluh.
“Hei *censored**censored**censored**censored**censored* , kamu suka dientot dua ****** begini? Ayo, jawab.”, Mama mulai ngomong jorok lagi sambi mempercepat kocokannya. Rambut Frida yang panjang dijadikan pegangan untuk lebih cepat mengocok.
“Suka, Ma. Frida paling suka ngentot. aakkhh entot Frida terus Ma. Tiap hari.”, sahut Frida.
Frida merasa memek dan anusnya penuh. Gerakan dua penis di memek dan anusnya memberikan sensasi yang luar biasa. Putingnya yang menempel di dada Bombom, tergesek-gesek dan membuat putingnya makin mengeras karena nikmat.
Tiba-tiba Frida merasa seperti gunung mau meletus. Kenikmatan-kenikmatan yang dia terima membuat kelenjar didalam tubuhnya mengumpul dan mau muntah keluar melalui memeknya. Kenikmatan ini lebih dari orgasme sebelumnya.
“Aakhh.. sstt.. aakkhh.. Frida mau nyampe.”, erang Frida.
Frida pun menggapai orgasmenya yang ketiga dan keempat sekaligus. Frida baru merasakan indahnya multi orgasme. Mama melepaskan penis mainannya dari anus Frida. Bombom yang belum keluar segera membalik tubuh Frida dan bersiap-siap menggenjot Frida lagi.
“Berhenti dulu, mBom. Frida capek bener nih.”, pinta Frida memelas.
“Sini. Pake memek Mama aja, mbom.”, sahut Mama yang sudah melepas peralatannya.
Mama mengambil posisi menungging di atas tubuh Frida. Bombom pun langsung mengocok memek Mamanya dari belakang dengan cepat. Frida pun tidak ketinggalan mengajak Mama berciuman sambil tangannya meremas-remas dada Mamanya.
“Uuhhff.. Bagus, anak-anak. Kalian pintar sekali.”, desah Mama keenakan.
Bombom terus mengocok memek Mamanya yang masih terasa menggigit walau sudah punya anak. Apalagi goyangan Mamanya, top. Tak lama, Bombom mulai merasa kalo mau keluar.
“Ma.. Bombom mau keluar, Ma.”
“Tunggu Mama. Mama juga mau nyampe. aakkh..”, erang Mama.
Kemudian Ibu dan anak itu orgasme bersamaan. Setelah itu mereka bertiga istirahat dan tertidur di ranjang bersama-sama. Sejak saat itu, mereka sering bermain seks bila Papa tidak ada dirumah. Kadang berdua, kadang bertiga. Frida juga senang sekali karena sikap Mama terhadapnya berubah menjadi baik, tidak lagi seperti dulu
cerita dewasa, kumpulan cerita sex, blowjob, handjob, cerita sex dewasa, cerita seks dewasa, tante girang, daun muda, pemerkoHeri, cerita seks artis,cerita sex artis, cerita porno artis,cerita hot artis, cerita sex, cerita kenikmatan,cerita bokep, cerita ngentot,cerita hot, bacaan seks, cerita, Kumpulan Cerita Seks, onani dan Masturbasi, cerita seks tante,blog cerita seks, seks,sedarah seks, cerita 17 tahun,cerita bokep

Tinggalkan pesan "Cerita Seks Mama dan Anak Putrinya"